Notification

×

Elektabilitas Ganjar Meningkat Versi SMRC, Hasto Bicara Momentum

Jumat, 10 Juni 2022 | 20:32 WIB Last Updated 2022-06-10T16:36:27Z
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - 
Elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai capres 2024 dari survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tentang elektabilitas calon presiden 2024 meningkat menjadi 30,3 persen. Namun, sampai saat ini, PDIP belum menentukan sikap akan mengusung Ganjar sebagai capres nantinya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberi alasan PDIP belum mengambil sikap atau mendukung Ganjar. Dia memastikan PDIP bergerak sesuai momentum.

"PDI Perjuangan bergerak sesuai dengan momentum, sesuai dengan tahapan pemilu yang ditetapkan," kata Hasto kepada wartawan, Jumat (10/6/2022).

Lebih lanjut, Hasto juga menjawab terkait peluang Ganjar digaet oleh partai lain. Hasto mengingatkan parpol memiliki tradisi dan tugas utama untuk menggembleng kadernya sendiri, bukan justru membajak kader dari partai lain.

"Dalam tradisi berpolitik, partai punya tugas untuk menggembleng setiap anggota dan kadernya, bukan membajak kader dari partai lain dan itulah bagian dari prinsip yang harus dikedepankan," kata dia.

Dia juga menegaskan politik bukan soal salip-menyalip. Namun sikap gotong royong sesama partai yang lebih harus diperhatikan.

"Kita tidak mendorong adanya salip-menyalip di dalam politik itu. Tetapi kerja sama politik gotong royong dalam politik untuk menyelesaikan masalah rakyat yang begitu banyak dan tanggung jawab kita bersama. Itu yang didorong oleh PDI Perjuangan," jelasnya.

Kriteria Pemimpin Versi Megawati

Hasto menegaskan Megawati menginstruksikan beberapa kriteria nama yang layak diusung PDIP dan menjadi calon presiden nantinya. Salah satunya rekam jejak calon.

"Ibu Megawati di dalam tradisi beliau untuk calon pemimpin itu melihat track record-nya, melihat rekam jejaknya, melihat karakternya, melihat daya juangnya," jelasnya.

"Dan kemudian sebagai insan yang percaya pada Tuhan tentu juga memohon petunjuk dari Tuhan Yang Mahakuasa mendengarkan aspirasi dari rakyat. Itu yang dilakukan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri," imbuhnya.

Selain itu, pemimpin yang akan diusung nantinya diharapkan tidak hanya berbicara soal elektoral. Namun memperhatikan permasalahan lain yang ada.

"Kerawanan pangan, masalah pendidikan, kita sangat khawatir bagaimana negara sebesar Indonesia ini seluruh perguruan tingginya kalah dengan negara-negara tetangga. Jadi pemimpin di antara bangsa-bangsa itu, harusnya lebih dominan daripada sekadar berbicara tentang elektoral," ujarnya.

"Kita ingin pemimpin itu mengakar sebagai cermin kekuatan kolektif rakyat. Kita tidak ingin ada seorang pemimpin hanya dibangun dari faktor elektoral, tetapi dari kualitas kepemimpinan, dari karakter kepemimpinan, dari agenda-agenda strategis di dalam meyakinkan nasib lebih dari 270 juta rakyat Indonesia. Wacana itulah yang ingin didorong oleh PDIP," pungkasnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update