Tue. Sep 8th, 2026

Spekulasi Profesor Harvard: 3I/Atlas Benda Buatan Dengan Kemungkinan Asal-Usul Non-Manusiawi

3I/ATLAS saat melintasi orbit Bumi (Foto: NASA)

KLIIKSAINS – Suatu fenomena langka tengah menjadi sorotan dunia astronomi belakangan ini. 

Sebuah komet antarbintang bernama 3I/ATLAS baru saja
melintasi titik terdekatnya dengan Matahari, komet ini dikenal
sebagai perihelion dan melintas pada 29-30 Oktober 2025 lalu. 

Momen ini
memberi ilmuwan peluang emas untuk mempelajari tamu kosmik yang datang dari
luar tata surya kita.

 

Menariknya, para peneliti memperkirakan bahwa usia
3I/ATLAS mencapai sekitar 7 miliar tahun, ini sama dengan dua kali umur
Bumi, menjadikannya komet tertua yang pernah ditemukan manusia. 

Usia fantastis
ini berarti 3I/ATLAS telah terbentuk bahkan sebelum sistem tata surya kita
lahir, menjadikannya potongan sejarah kosmik yang berharga bagi penelitian asal
usul planet dan bintang.

Komet 3I/ATLAS ditemukan pada 1 Juli 2025 oleh teleskop
survei ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) yang didanai NASA
di Rio Hurtado, Chile. 

Penemuan ini langsung mencetak sejarah karena hanya ada
tiga komet antarbintang yang pernah terdeteksi sejauh ini, setelah 1I/ʻOumuamua
(2017) dan 2I/Borisov (2019).

 

Para astronom menjuluki komet seperti ini sebagai “bola
salju kotor” (dirty snowballs) karena tersusun dari campuran es,
debu, dan batuan kecil. 

Ketika mendekati Matahari, panas membuat permukaannya
melepaskan gas dan debu hingga membentuk ekor bercahaya khas komet. 

Proses ini
sekaligus membantu ilmuwan mengidentifikasi komposisi serta asal muasalnya.

 

NASA memastikan bahwa 3I/ATLAS tidak berbahaya bagi Bumi. 

Selama perjalanannya melintasi tata surya, komet ini akan menjaga jarak aman
sekitar 240 juta kilometer dari planet kita, atau sekitar dua kali jarak
Bumi-Matahari. 

Ia juga sempat melintas dekat Mars pada 3 Oktober 2025 dan akan
mencapai titik terdekat dengan Bumi pada 19 Desember 2025, sebelum melintasi
Jupiter pada 16 Maret 2026 dan keluar dari tata surya untuk selamanya.

 

Namun, di balik keindahan fenomenanya, 3I/ATLAS menyimpan
misteri besar. 

Pengamatan menunjukkan bahwa komet ini memiliki warna biru yang
tidak biasa, bahkan lebih biru dari Matahari, dan suhunya jauh lebih tinggi
daripada yang diperkirakan. 

Selain itu, rasio nikel terhadap sianida di dalam
semburan gasnya jauh lebih tinggi dibanding komet biasa, sementara kandungan
airnya sangat sedikit, hanya sekitar 4% dari total massa.

 

Fenomena ini membuat beberapa ilmuwan, termasuk Profesor Avi
Loeb dari Universitas Harvard, berspekulasi bahwa 3I/ATLAS mungkin bukan komet
alami, melainkan benda buatan dengan kemungkinan asal-usul “non-manusiawi”. 

Loeb mengklaim komet ini mengalami percepatan non-gravitasi misterius saat
mendekati Matahari, kemungkinan akibat kehilangan massa dalam jumlah besar. 

Ia
bahkan mendesak NASA untuk merilis citra resolusi tinggi dari Mars
Reconnaissance Orbiter, yang diduga menangkap penampakan komet tersebut awal
Oktober lalu.

 

Terlepas dari berbagai teori dan spekulasi, 3I/ATLAS
memberikan kesempatan langka bagi sains untuk mempelajari “tamu” dari sistem
bintang lain. 

Setiap partikel debu dan kilau cahaya yang dibawanya menjadi
jendela menuju masa lalu.

 

Kini, seiring perjalanannya menjauh dari Matahari, 3I/ATLAS
akan perlahan kembali terlihat dari Bumi di belahan utara pada awal Desember,
menawarkan pemandangan terakhir sebelum ia lenyap menuju ruang antarbintang. (newsweek/mediaindonesia)

By Admin

Related Post