Category: Covid-19

  • Jerman Diserang Gelombang ke-4 COVID-19, RS Mulai Kewalahan

    Jerman Diserang Gelombang ke-4 COVID-19, RS Mulai Kewalahan

    Foto ilustrasi Virus Corona

    JAKARTA (Kliik.id) – Jerman diserang gelombang keempat COVID-19, sempat mencatat rekor kasus 50 ribu sehari. Tiga Menteri Kesehatan di negara bagian Jerman mendesak strategi pengendalian COVID-19 lebih ketat seperti lockdown hingga penutupan sekolah.

    Insiden kasus COVID-19 selama tujuh hari di Jerman mencapai rekor tertinggi selama pandemi. Jumlah orang yang terinfeksi naik menjadi 277,4 per 100 ribu penduduk berdasarkan data Robert Koch Institute per Sabtu (13/11/2021), di beberapa wilayah bahkan meningkat menjadi 500.
    Kepala asosiasi dokter terbesar di Jerman, Marburger Bund mengatakan kepada grup media Jerman Funke Mediengruppe beberapa ruangan intensif atau perawatan ICU kemungkinan perlu memindahkan pasien antarwilayah, mencari tempat tidur dalam beberapa minggu mendatang, imbas kapasitas nyaris penuh.
    Pemerintah federal dan para pemimpin dari 16 negara bagian Jerman akan membahas langkah-langkah pandemi baru pekan depan. Menteri kesehatan negara bagian Baden-Wuerttemberg, Hessen dan Brandenburg berpendapat bahwa sejumlah wilayah perlu tetap membuka opsi kebijakan darurat seperti jam malam, lockdown, atau penutupan sekolah, jika situasinya terus memburuk.
    “Menghadapi beban rumah sakit yang di beberapa daerah hampir melebihi batas absolut, status epidemi harus diperpanjang di tingkat nasional,” kata ketiga menteri kesehatan itu dalam pernyataan bersama, Sabtu, dikutip dari Channel News Asia. (Detik)
  • Jangan Kena Hoaks, Pemerintah Tegaskan Vaksin COVID Aman Digunakan

    Jangan Kena Hoaks, Pemerintah Tegaskan Vaksin COVID Aman Digunakan

    Foto ilustrasi
    JAKARTA (Kliik.id) – Pemerintah kembali menegaskan bahwa vaksin COVID-19 yang digunakan selama ini aman untuk digunakan. Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai berbagai hoaks atau berita tidak benar mengenai vaksin COVID-19 yang beredar.
    Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong, mengatakan, pemerintah tengah melakukan upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat.

    Namun, di beberapa daerah, upaya ini menemui hambatan dengan masih adanya hoaks tentang vaksin tersebut.

    “Hoaks berperan memperlambat vaksinasi. Masyarakat dibuat takut dan khawatir terhadap efek vaksinasi, yang dilebih-lebihkan dan dibesar-besarkan,” ujar Usman dalam keterangannya, Minggu (31/10/2021).
    Usman menegaskan bahwa seluruh vaksin COVID-19 yang digunakan tersebut aman dan berkhasiat, serta telah mendapatkan izin Badan POM.
    Untuk itu, Usman berharap, bagi masyarakat yang belum divaksin untuk segera ikut vaksinasi. Dan bagi yang sudah vaksin bisa mengajak orang tua, keluarga, sanak saudara, dan lingkungan sekitar yang belum divaksin agar mau divaksin.
    “Pemerintah berharap masyarakat segera melakukan vaksinasi hal ini seiring langkah pemerintah meningkatkan capaian vaksinasi di daerah-daerah sekaligus sebagai antisipasi gelombang ke-3 COVID-19,” jelasnya.
    Usman juga meminta masyarakat agar tetap disiplin untuk tetap menjaga protokol kesehatan yang mencakup memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.
    “Pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lengah dan tetap waspadai kenaikan kasus COVID-19 sekecil apapun di wilayahnya agar tidak terjadi gelombang baru COVID-19,” ujarnya.
    Lebih lanjut dikatakan, pada hari Sabtu (30/10/2021), Indonesia menerima 819.600 dosis vaksin Moderna dalam bentuk jadi dari Pemerintah Belanda.
    “Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada negara sahabat yang telah ikut membantu dukungan vaksin. Kali ini bantuan datang dari Pemerintah Belanda berupa Vaksin Moderna sebanyak 819.600 dosis,” ujarnya.
    Usman juga mengatakan, dengan kedatangan tahap ke108 ini, maka total jumlah vaksin yang tiba di tanah air mencapai 313.155.360.
    Jumlah ini merupakan vaksin dari berbagai merk baik dalam bentuk jadi maupun bahan baku atau bulk. Vaksin tersebut diperoleh dari pembelian langsung dan juga bantuan dari negara sahabat.
    “Lancarnya kedatangan vaksin, membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal,” katanya. (Rls)
  • Menkominfo: Ulama dan Santri Berperan Penting Dalam Perjuangan Melawan Pandemi COVID-19

    Menkominfo: Ulama dan Santri Berperan Penting Dalam Perjuangan Melawan Pandemi COVID-19

    Menkominfo, Johnny G Plate
    JAKARTA (Kliik.id) – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate, mengatakan perjuangan melawan pandemi COVID-19 bukanlah perjuangan pemerintah semata. Perjuangan ini
    melibatkan banyak pihak dan elemen masyarakat, termasuk para santri dan ulama.
    “Peran tersebut di antaranya dilakukan para santri dan ulama yang berkontribusi besar, khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait disiplin protokol kesehatan dan pentingnya vaksinasi.” ujar Johnny dalam keterangannya, Jumat (22/10/2021).
    Para santri dan ulama telah berperan aktif dalam memberi contoh kepada masyarakat tentang cara melawan pandemi, mulai dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak hingga melakukan vaksinasi.
    Untuk itu, pemerintah sangat mengapresiasi kepada
    para santri dan ulama yang telah mendukung program pemerintah untuk melawan COVID-19.
    “Memperingati hari santri nasional, pemerintah memberikan apresiasi kepada seluruh santri dan juga ulama yang telah bersatu dan bergandengan tangan bersama pemerintah dalam melawan pandemi COVID-19. Santri selalu hadir untuk mendukung perjuangan bangsa, kali ini perjuangan dalam melawan virus COVID-19,” jelasnya.
    Johnny menjelaskan, Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober merujuk pada terbitnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyulut semangat juang para santri dan masyarakat untuk mempertahankan NKRI dari ancaman pendudukan kembali tentara sekutu Belanda dan Inggris (NICA).
    Tahun ini, lanjutnya, Hari Santri 2021 diperingati dengan tema ‘Santri Siaga Jiwa Raga.’ Tema ini
    merupakan bentuk pernyataan sikap santri Indonesia yang senantiasa siap menyerahkan jiwa dan raga dalam membela tanah air, mempertahankan persatuan Indonesia, serta mewujudkan perdamaian dunia.
    “Siaga jiwa raga menurut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas merupakan komitmen santri dalam membela tanah air yang lahir dari santun, rendah hati, pengalaman juga tempaan santri selama di pesantren,” kata Menkominfo.
    Pengasuh Pondok Pesantren Drisiyyah Tasikmalaya, Ustaz Ahmad Tazakka Bonanza, atau lebih dikenal dengan Ustaz Aka mengatakan, upacara Hari Santri Nasional dilakukan untuk meneladani para santri dan kiai terdahulu yang selalu berjuang untuk Indonesia.
    “Para kiai dan alim ulama terdahulu tidak berpangku tangan dan selalu ikut berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Begitu pun di masa pandemi saat ini, pondok pesantren terus berjuang dan tidak berhenti dalam melakukan pendidikan kepada para santri,” ujarnya.
    Dia mengakui, tantangan bagi santri di masa pandemi tentu semakin berat. Dimensinya juga
    semakin berubah. Apalagi, di era digitalisasi dan keterbukaan informasi tantangannya berubah, baik dalam hal berdakwah, berkarya, maupun pendidikan.
    “Maka santri diharapkan memiliki banyak kemampuan dan mampu beradaptasi dengan teknologi, dengan kemajuan informasi sehingga santri tidak gagap dan menjadi yang terdepan dalam membangun bangsa,” kata Ustaz Aka. (Detik)
  • Meledak Lagi, Pertama Kali Corona Inggris Tembus 50 Ribu Kasus Sejak 17 Juli

    Meledak Lagi, Pertama Kali Corona Inggris Tembus 50 Ribu Kasus Sejak 17 Juli

    Foto ilustrasi
    JAKARTA (Kliik.id) – Corona di Inggris kembali mencetak rekor baru, lebih dari 50 ribu orang terinfeksi COVID-19. Pertama kalinya kembali menyentuh angka 50 ribu, penambahan tertinggi sejak 17 Juli.
    Dikutip dari BBC, perdana menteri Boris Johnson kini mendesak banyak orang untuk mendapat vaksin COVID-19 booster saat waktunya tiba.
    “Meskipun kasusnya tinggi, pemerintah akan melanjutkan rencana strategi vaksinasi, dan sekarang keadaannya jauh lebih baik daripada tahun lalu,” jelas dia.
    Inggris mencatat 52.009 kasus baru COVID-19 dan 115 orang meninggal dunia. Menurut Boris Johnson, kasus rawat inap dan kematian tetap rendah berkat vaksinasi Corona.
    Kasus harian tertinggi sebelumnya di 17 Juli tercatat 54.674, pemicu lonjakan tersebut banyak klaster keluarga dan aktivitas penularan di dalam ruangan.
    Akibat kembali mengalami lonjakan, dokter setempat mendesak pemerintah menyiapkan rencana lainnya, yang memungkinkan warga kembali bekerja dari rumah dan wajib memakai masker.
    Sementara Boris mengimbau anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun untuk mendapatkan vaksin COVID-19 pertama mereka karena stok vaksin masih tersedia dalam jumlah yang besar.
    Diperkirakan ada 4,7 juta dosis vaksin booster, yang akan diberikan setidaknya enam bulan setelah vaksinasi kedua, kini telah siap di Inggris.
    Menurut Our World in Data per 19 Oktober, 73,7 persen warganya sudah mendapat vaksinasi COVID-19 dosis pertama. Sementara dosis kedua mencapai 67,6 persen dari populasi.
    Adapun warga yang diimbau mendapat vaksin booster adalah:
    Usia lebih dari 50-an
    Pekerja kesehatan dan perawatan sosial garis depan
    Orang dewasa dan lansia di panti jompo
    Orang berusia 16-49 tahun dengan riwayat penyakit penyerta yang menempatkan mereka pada risiko lebih besar terkena COVID-19
    Orang dewasa yang berbagi rumah dengan orang-orang yang rentan
    Dosis harus diberikan setidaknya enam bulan setelah vaksinasi kedua, dan biasanya menggunakan vaksin Pfizer atau Moderna. (Detik)
  • RI Terancam Gelombang 3 COVID-19, Panel WHO Beberkan Alasannya

    RI Terancam Gelombang 3 COVID-19, Panel WHO Beberkan Alasannya

    Foto ilustrasi (detikcom)
    JAKARTA (Kliik.id) – Gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia berpotensi terjadi akhir Desember 2021, terlebih jika banyak pelonggaran aktivitas yang tidak dibarengi protokol kesehatan dan skrining ketat.
    Panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait COVID-19, Dicky Budiman mengungkap alasan Indonesia masih berpotensi mengalami gelombang Corona selanjutnya.
    “Bicara setiap gelombang tentu multifaktor, tetapi yang utama adalah adanya kelompok masyarakat yang rawan atau belum memiliki imunitas ya artinya dia belum divaksinasi atau belum menjadi penyintas,” ungkap Dicky kepada detikcom Senin (18/10/2021).
    “Walaupun dalam prediksi lembaga AS (IHME) itu sudah mendekati 80 juta lah penduduk kita yang terinfeksi, ditambah dengan yang sudah divaksinasi menjadi katankanlah sudah 40 persen atau 50 persen,” sambungnya.
    Menurut dia, tetap ada 50 persen penduduk Indonesia yang masuk kategori rawan COVID-19. Berkaca pada Singapura dengan cakupan vaksinasi tinggi, tetapi kasus COVID-19 masih bisa melonjak.
    “Singapura aja itu 8 persen yang penduduknya belum divaksinasi penuh aja masih bisa meledak apalagi kita, jadi tu yang membuat kenapa potensi gelombang ketiga atau gelombang berikut itu menjadi tetap besar,” jelas dia.
    Antibodi menurun pasca 6 bulan
    Sejumlah studi vaksin COVID-19 menunjukkan penurunan perlindungan terhadap COVID-19 enam bulan pasca divaksinasi. Dicky juga menyoroti penurunan proteksi ini amat berisiko memicu kembali lonjakan kasus.
    “Walaupun tidaklah sama dengan yang belum divaksinasi, tapi mereka juga masuk dalam kelompok yang relatif rawan, ditambah lagi adanya balas dendam libur,” pungkas dia.
    Batas aman pelonggaran
    Dicky menilai ada tiga kategori yang perlu diperhatikan dalam pelonggaran aktivitas. Pertama, transmisi penularan harus berada di level terendah, positivity rate di angka 3 atau paling baik 1 persen.
    Cakupan vaksinasi sebaiknya sudah melampaui 60 persen dan didukung dengan penguatan testing PCR. (Detik)
  • Jokowi Sebut Banyak Kegiatan Abai Prokes, Wanti-wanti Gelombang 3 COVID

    Jokowi Sebut Banyak Kegiatan Abai Prokes, Wanti-wanti Gelombang 3 COVID

    Foto ilustrasi
    JAKARTA (Kliik.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat mengenai evaluasi PPKM. Salah satu yang disorot Jokowi yaitu terkait sudah banyaknya kegiatan yang mengabaikan protokol kesehatan.
    Arahan Jokowi itu disampaikan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers, Senin (18/10/2021).
    Salah satu kegiatan yang disebut mengabaikan prokes yaitu pernikahan.
    “Presiden tadi mengingatkan juga sudah banyak kegiatan-kegiatan yang kadang-kadang agak mengabaikan protokol kesehatan, baik itu di pernikahan maupun di tempat … atau pun kegiatan-kegiatan lain,” ujar Luhut.
    Luhut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Dia mengingatkan soal kemungkinan gelombang ke-3 pandemi COVID-19.
    “Kami sekali lagi mengimbau agar seluruh masyarakat patuh, karena kita masih berjaga-jaga terhadap kemungkinan gelombang 3 yang mungkin terjadi pada Natal tahun baru yang akan datang. Jadi semua harus berhati-hati,” ujar Luhut. (Detik)
  • Jelang Libur Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Antisipasi Gelombang 3 Covid-19

    Jelang Libur Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Antisipasi Gelombang 3 Covid-19

    Foto ilustrasi (detikcom)
    JAKARTA (Kliik.id) – Pandemi Covid-19 belum usai, bahkan bisa jadi muncul gelombang ketiga usai libur Natal dan tahun baru. Pemerintah siaga.
    Merujuk aktivitas traveler di saat libur Natal dan tahun baru sebelumnya, di periode itu biasanya terjadi peningkatan mobilitas masyarakat. Potensi muncul gelombang ketiga Covid-19 pun diwaspadai.
    Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, mengatakan pemerintah menyiapkan enam strategi utama untuk mengantisipasi gelombang ke-3 Covid-19 di akhir tahun 2021.
    “Keberhasilan kita saat ini dalam menurunkan kasus Covid-19 tidak boleh putus,” ujar Johnny dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).
    Yang pertama, memastikan pelonggaran aktivitas diikuti pengendalian lapangan yang ketat.
    “Kami ingatkan sekali lagi, penurunan level PPKM bukan berarti masyarakat bisa euforia. Kita harus tetap waspada menerapkan protokol kesehatan dan membatasi mobilitas,” kata Johnny.
    Kedua, pemerintah berupaya meningkatkan laju vaksinasi lansia, terutama di wilayah aglomerasi dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Tujuannya, untuk menekan angka kematian dan perawatan rumah sakit apabila terjadi gelombang berikutnya.
    Ketiga, pemerintah juga mendorong percepatan vaksinasi Covid-19 anak agar saat libur Natal dan tahun baru imunitas anak sudah terbentuk.
    Keempat, seiring dibukanya penerbangan internasional, pemerintah berkomitmen menertibkan mobilitas pelaku perjalanan internasional dengan aturan prokes ketat, utamanya ke Bali. Hal ini menyusul dibukanya Bandara Ngurah Rai pada 14 Oktober 2021.
    Kelima, memperkuat peran pemerintah daerah dalam mengawasi kegiatan dan mengedukasi warga di daerah tentang rincian protokol kesehatan yang harus dijalankan.
    Keenam, terus mengampanyekan protokol kesehatan untuk meningkatkan kedisiplinan masyarakat.
    Pemerintah juga mengimbau panitia penyelenggara Natal untuk mematuhi SE Menag No. 29 tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Besar Keagamaan. Tujuannya, untuk menekan risiko penularan Covid-19, sekaligus memberi rasa aman pada masyarakat yang merayakan Natal.
    “Butuh kerja sama yang baik dari seluruh pihak agar Indonesia berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 dan memulihkan perekonomian nasional. Disiplin 3M, 3T, vaksinasi, dan implementasi teknologi informasi seperti PedulilLindungi, menjadi kuncinya,” kata Johnny. (Detik)
  • Jokowi: Pandemi COVID di Tanah Air Kian Membaik, tapi Belum Berakhir

    Jokowi: Pandemi COVID di Tanah Air Kian Membaik, tapi Belum Berakhir

    Presiden Jokowi (detikcom)
    JAKARTA (Kliik.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mem-posting foto ilustrasi benda-benda di sebuah meja. Jokowi menyelipkan pesan mengenai pentingnya protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.
    Foto itu diunggah di akun Instagram @jokowi seperti dilihat detikcom, Senin (11/10/2021). Jokowi menyampaikan kabar baik bahwa situasi pandemi semakin melandai.
    “Dari hari ke hari, situasi pandemi COVID-19 di tanah air kian membaik. Tapi pandemi ini belumlah berakhir. Kita tetap fokus pada dua hal: vaksinasi yang dipercepat dan protokol kesehatan yang terus kita perkuat,” tulis Jokowi.
    Namun Jokowi tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Dia pun mengingatkan soal benda-benda yang harus dibawa saat pandemi.
    “Jangan pernah lengah dan tetap waspada, karena virus itu masih ada di sekitar kita. Anda yang hendak berkegiatan di luar rumah, jangan lupa membawa bekal untuk terhindar dari COVID-19,” ujar Jokowi. (Detik)
  • Sandiaga Uno: Gelombang Ketiga COVID-19 Sebuah Keniscayaan

    Sandiaga Uno: Gelombang Ketiga COVID-19 Sebuah Keniscayaan

    Sandiaga Uno (detikcom)
    JAKARTA (Kliik.id) – Menparekraf Sandiaga Uno merespons terkait kabar gelombang ketiga Corona di RI. Sandiaga mengatakan gelombang ketiga itu sebuah keniscayaan dan bisa saja terjadi.
    “Tadi pagi saya sudah bertemu dengan Pak Menkes dan diberi satu kabar yang mudah-mudahan terus mengingatkan kita bahwa gelombang ketiga keniscayaan, akan sampai ke Indonesia. Oleh karena itu kita harus hati-hati betul, pantau secara ketat, tinggal kesiapan kita,” kata Sandiaga, kata Sandiaga Uno kepada wartawan, Minggu (3/10/2021).
    Sandiaga menjelaskan, di sektor pariwisata dan ekonomi sendiri, pihaknya telah memperketat berbagai aspek. Salah satunya, mewajibkan pengusaha mengurus sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE) sebelum beroperasional demi mengantisipasi munculnya varian baru.
    “Dari segi prokes, dari segi PeduliLindungi, CHSE vaksinasi yang terus digenjot termasuk booster yang akan kita mulai bulan November akan ada kebijakan mengenai booster, dan ini harus dilakukan karena varian baru terus terpantau,” jelasnya.
    “Alhamdulillah so far belum terdampak ke sini tapi karena sudah diberikan kepastian ke Kemenkes bahwa ini akan datang cepat atau lambat, tentunya yang harus dilakukan adalah persiapan,” lanjut Sandiaga.
    Sandiaga lalu berbicara kemungkinan booster vaksin COVID-19 yang diberikan kepada non nakes. Hal ini diupayakan untuk meningkatkan imunitas warga demi menghindari varian baru COVID-19.

    Sandiaga menyebut keputusan terkait booster akan diumumkan pada November mendatang.

    “Termasuk booster yang akan kita mulai bulan November akan ada kebijakan mengenai booster, dan ini harus dilakukan karena varian baru terus terpantau,” imbuhnya.
    “Booster belum diputuskan, tapi yang sudah kan untuk high risk dan nakes. Jadi ke depan apakah booster untuk jalur kepolisian, atau terbuka untuk lainnya nanti diputuskan bulan November,” lanjut Sandi.
    Sebagaimana diketahui, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan penyebaran COVID-19 sudah bisa dikendalikan.
    Luhut mengungkapkan pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa penyebaran Corona gelombang ketiga tetap mungkin terjadi.
    “Seperti kita ketahui, hari ini kasus baru 1.932, sembuh 6.799, meninggal 166, dengan testing 150 ribu sekian,” kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (20/9/2021).
    Luhut menjelaskan apa yang telah dicapai terkait penanganan Corona adalah buah kerja keras semua pihak. Jokowi, kata Luhut, meminta agar tetap waspada.
    “Jadi saya katakan bahwa angka ini kerja keras semua tim, saya kira membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Tetapi, tetap tadi Presiden mengingatkan kami, untuk kita semua super waspada menghadapi ini, karena bukan tidak mungkin ada gelombang ketiga,” ungkap Luhut. (Detik)
  • Gara-gara Pandemi COVID-19, Penduduk Singapura Menyusut 4,1 Persen

    Gara-gara Pandemi COVID-19, Penduduk Singapura Menyusut 4,1 Persen

    Foto ilustrasi
    JAKARTA (Kliik.id) – Total populasi Singapura menyusut 4,1 persen menjadi 5,45 juta jiwa pada Juni tahun ini, sebagian disebabkan oleh penurunan jumlah non-penduduk di tengah pandemi COVID-19, menurut angka resmi yang dirilis pada Selasa (28/9/2021).
    Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional (NPTD) mengatakan, jumlah penduduk warga negara dan penduduk tetap (PR) mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak Singapura mulai mengumpulkan data tersebut pada 1970 silam.
    Dikutip dari laman Channel News Asia, secara khusus, mengacu pada laporan tahunan bertajuk Population in Brief, jumlah penduduk warga negara Singapura turun 0,7 persen menjadi 3,5 juta dibanding Juni tahun lalu, sementara PR merosot 6,2 persen menjadi 490.000.
    “Pembatasan perjalanan selama pandemi adalah faktor utama yang mempengaruhi ukuran (warga) dan populasi PR pada 2021, karena lebih banyak (warga) dan penduduk tetap tinggal di luar negeri terus menerus selama 12 bulan atau lebih, yang karenanya tidak dihitung sebagai bagian dari populasi penduduk,” kata NPTD.
    NPTD menambahkan, lebih sedikit orang menjadi warga negara baru atau PR pada tahun lalu, kemungkinan karena pembatasan perjalanan dan pembatasan operasional yang timbul dari pandemi COVID-19.
    “Misalnya, langkah-langkah manajemen yang aman mengakibatkan terbatasnya slot untuk menyelesaikan langkah-langkah terakhir untuk PR dan pendaftaran kewarganegaraan, yang harus dilakukan secara langsung,” ujar NPTD.
    “Akibatnya, beberapa pelamar yang disetujui prinsipnya belum menyelesaikan semua proses yang diperlukan untuk mendapatkan izin tinggal permanen atau kewarganegaraan mereka pada akhir 2020,” ungkap NPTD. (Detik)