| Presiden Jokowi (detikcom) |
Category: Covid-19
-

Jokowi: Pandemi COVID di Tanah Air Kian Membaik, tapi Belum Berakhir
JAKARTA (Kliik.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mem-posting foto ilustrasi benda-benda di sebuah meja. Jokowi menyelipkan pesan mengenai pentingnya protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.Foto itu diunggah di akun Instagram @jokowi seperti dilihat detikcom, Senin (11/10/2021). Jokowi menyampaikan kabar baik bahwa situasi pandemi semakin melandai.“Dari hari ke hari, situasi pandemi COVID-19 di tanah air kian membaik. Tapi pandemi ini belumlah berakhir. Kita tetap fokus pada dua hal: vaksinasi yang dipercepat dan protokol kesehatan yang terus kita perkuat,” tulis Jokowi.Namun Jokowi tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Dia pun mengingatkan soal benda-benda yang harus dibawa saat pandemi.“Jangan pernah lengah dan tetap waspada, karena virus itu masih ada di sekitar kita. Anda yang hendak berkegiatan di luar rumah, jangan lupa membawa bekal untuk terhindar dari COVID-19,” ujar Jokowi. (Detik) -

Sandiaga Uno: Gelombang Ketiga COVID-19 Sebuah Keniscayaan

Sandiaga Uno (detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Menparekraf Sandiaga Uno merespons terkait kabar gelombang ketiga Corona di RI. Sandiaga mengatakan gelombang ketiga itu sebuah keniscayaan dan bisa saja terjadi.“Tadi pagi saya sudah bertemu dengan Pak Menkes dan diberi satu kabar yang mudah-mudahan terus mengingatkan kita bahwa gelombang ketiga keniscayaan, akan sampai ke Indonesia. Oleh karena itu kita harus hati-hati betul, pantau secara ketat, tinggal kesiapan kita,” kata Sandiaga, kata Sandiaga Uno kepada wartawan, Minggu (3/10/2021).Sandiaga menjelaskan, di sektor pariwisata dan ekonomi sendiri, pihaknya telah memperketat berbagai aspek. Salah satunya, mewajibkan pengusaha mengurus sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE) sebelum beroperasional demi mengantisipasi munculnya varian baru.“Dari segi prokes, dari segi PeduliLindungi, CHSE vaksinasi yang terus digenjot termasuk booster yang akan kita mulai bulan November akan ada kebijakan mengenai booster, dan ini harus dilakukan karena varian baru terus terpantau,” jelasnya.“Alhamdulillah so far belum terdampak ke sini tapi karena sudah diberikan kepastian ke Kemenkes bahwa ini akan datang cepat atau lambat, tentunya yang harus dilakukan adalah persiapan,” lanjut Sandiaga.Sandiaga lalu berbicara kemungkinan booster vaksin COVID-19 yang diberikan kepada non nakes. Hal ini diupayakan untuk meningkatkan imunitas warga demi menghindari varian baru COVID-19.Sandiaga menyebut keputusan terkait booster akan diumumkan pada November mendatang.
“Termasuk booster yang akan kita mulai bulan November akan ada kebijakan mengenai booster, dan ini harus dilakukan karena varian baru terus terpantau,” imbuhnya.“Booster belum diputuskan, tapi yang sudah kan untuk high risk dan nakes. Jadi ke depan apakah booster untuk jalur kepolisian, atau terbuka untuk lainnya nanti diputuskan bulan November,” lanjut Sandi.Sebagaimana diketahui, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan penyebaran COVID-19 sudah bisa dikendalikan.Luhut mengungkapkan pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa penyebaran Corona gelombang ketiga tetap mungkin terjadi.“Seperti kita ketahui, hari ini kasus baru 1.932, sembuh 6.799, meninggal 166, dengan testing 150 ribu sekian,” kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (20/9/2021).Luhut menjelaskan apa yang telah dicapai terkait penanganan Corona adalah buah kerja keras semua pihak. Jokowi, kata Luhut, meminta agar tetap waspada.“Jadi saya katakan bahwa angka ini kerja keras semua tim, saya kira membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Tetapi, tetap tadi Presiden mengingatkan kami, untuk kita semua super waspada menghadapi ini, karena bukan tidak mungkin ada gelombang ketiga,” ungkap Luhut. (Detik) -

Gara-gara Pandemi COVID-19, Penduduk Singapura Menyusut 4,1 Persen

Foto ilustrasi JAKARTA (Kliik.id) – Total populasi Singapura menyusut 4,1 persen menjadi 5,45 juta jiwa pada Juni tahun ini, sebagian disebabkan oleh penurunan jumlah non-penduduk di tengah pandemi COVID-19, menurut angka resmi yang dirilis pada Selasa (28/9/2021).Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional (NPTD) mengatakan, jumlah penduduk warga negara dan penduduk tetap (PR) mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak Singapura mulai mengumpulkan data tersebut pada 1970 silam.Dikutip dari laman Channel News Asia, secara khusus, mengacu pada laporan tahunan bertajuk Population in Brief, jumlah penduduk warga negara Singapura turun 0,7 persen menjadi 3,5 juta dibanding Juni tahun lalu, sementara PR merosot 6,2 persen menjadi 490.000.“Pembatasan perjalanan selama pandemi adalah faktor utama yang mempengaruhi ukuran (warga) dan populasi PR pada 2021, karena lebih banyak (warga) dan penduduk tetap tinggal di luar negeri terus menerus selama 12 bulan atau lebih, yang karenanya tidak dihitung sebagai bagian dari populasi penduduk,” kata NPTD.NPTD menambahkan, lebih sedikit orang menjadi warga negara baru atau PR pada tahun lalu, kemungkinan karena pembatasan perjalanan dan pembatasan operasional yang timbul dari pandemi COVID-19.“Misalnya, langkah-langkah manajemen yang aman mengakibatkan terbatasnya slot untuk menyelesaikan langkah-langkah terakhir untuk PR dan pendaftaran kewarganegaraan, yang harus dilakukan secara langsung,” ujar NPTD.“Akibatnya, beberapa pelamar yang disetujui prinsipnya belum menyelesaikan semua proses yang diperlukan untuk mendapatkan izin tinggal permanen atau kewarganegaraan mereka pada akhir 2020,” ungkap NPTD. (Detik) -

Satgas Covid-19 Bicara Soal Potensi Gelombang Ketiga Pandemi

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. (Foto: Antaranews) JAKARTA (Kliik.id) – Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan pentingnya belajar dari pengalaman untuk mencegah potensi lonjakan ketiga di Indonesia.“Indonesia saat ini telah mengalami dua kali lonjakan yang terjadi pada Januari dan Juli 2021,” kata Wiku Adisasmito melalui siaran pers yang dilansir dari Kilat.com, Rabu (22/9/2021).Wiku mengatakan saat ini dunia tengah mengalami lonjakan ketiga sehingga perlu diwaspadai Indonesia dengan mempelajari pola kenaikan kasus di dalam negeri yang cenderung lebih lambat dari kenaikan kasus dunia.“Pada pola gelombang kedua di mana terdapat jeda tiga bulan, perlu kita antisipasi mengingat dalam tiga bulan ke depan ini kita akan memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022,” katanya.Wiku mengatakan lonjakan kasus di Indonesia pada Juli 2021 lebih disebabkan faktor internal dan bukan karena naiknya kasus global ataupun datang dari negara-negara lain.Beberapa faktor internal penyebab kenaikan kasus dan penyebaran virus adalah meningkatnya mobilitas dalam negeri, dan aktivitas sosial masyarakat yang terjadi bersamaan dengan periode mudik Idul Fitri dan sikap abai masyarakat terhadap protokol kesehatan.Wiku menjelaskan lonjakan pertama di Indonesia terjadi pada Januari 2021 yang merupakan dampak libur Natal dan Tahun Baru 2021 yang bersamaan dengan lonjakan pertama dunia.“Namun pada lonjakan kedua, dunia mengalaminya lebih cepat yaitu pada April 2021,” kata Wiku menambahkan.Pada saat terjadi lonjakan kedua kasus di dunia, kata Wiku, Indonesia sedang di titik terendah kasus mingguan. Sebaliknya, saat Indonesia kasusnya meningkat pada Juli, dunia kasusnya menurun dan meningkat lagi hingga mencapai lonjakan ketiga.Dari perbandingan pola lonjakan, kata Wiku, dapat diambil pelajaran bahwa lonjakan Indonesia pada Juli lalu nyatanya tidak berkontribusi signifikan terhadap kasus dunia.Mengingat pada waktu yang sama, dunia sedang mengalami penurunan, pun sebaliknya lonjakan kasus di tingkat global dan beberapa negara tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus di Indonesia.“Hal ini dapat terjadi melalui upaya ketat dalam penjagaan batas negara. Sehingga importasi kasus dari negara-negara yang sedang mengalami lonjakan dapat ditekan seminimal mungkin,” kata Wiku.Wiku berpesan agar masyarakat Indonesia harus semakin tangguh dalam menghadapi COVID-19.“Perlu dipahami bahwa mobilitas penduduk dan masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan, menjadi penyumbang terbesar terjadinya lonjakan kasus,” katanya. (Kilat/Rls) -

1.296 Sekolah Catat Klaster Baru COVID-19, Siswa SD Paling Banyak Tertular

Foto ilustrasi JAKARTA (Kliik.id) – Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah dimulai di sejumlah sekolah. Tak sedikit yang mencatat klaster baru, infeksi COVID-19 terjadi di para siswa maupun mahasiswa, sehingga PTM kembali ditunda.Berdasarkan catatan Kemendikbudristek per 20 September 2021 di 46.500 sekolah, ada 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan klaster COVID-19.“Kasus penularan kira-kira 2,8 persen yang melaporkan,” lapor Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri dalam diskusi daring Selasa (21/9/2021).Jika dirinci, Jumeri menyebutkan klaster COVID-19 paling banyak terjadi di SD yaitu 2,78 persen.Berikut detailnya:SD: 581 sekolahSMP: 241 sekolahSMA: 107 sekolahAdapun jumlah kasus positif COVID-19 paling banyak dilaporkan di lingkungan SD dengan total guru dan tenaga kependidikan 3.174 orang positif COVID-19 dari 581 klaster sekolah. Sementara jumlah siswa yang positif COVID-19 berjumlah 6.908 orang.Berikut detail laporan kasus positif COVID-19 selain SD:SMPGuru: 1.502 orangSiswa: 794 orangSMAGuru: 1.915 orangSiswa: 794 orangSMKGuru: 1.594 orangSiswa: 609 orang(Detik) -

COVID-19 Gelombang 3 Bisa Saja Terjadi, Ini Saran Epidemiolog ke Pemerintah

Foto ilustrasi SURABAYA (Kliik.id) – Kasus COVID-19 di Indonesia dinilai sudah terkendali. Meski demikian, epidemiolog mengingatkan pemerintah agar tetap stay on the track dalam penanganan COVID-19.“Gelombang ketiga ini, bisa dilihat dan belajar dari berbagai negara lain. Tentunya tidak menutup kemungkinan gelombang ketiga terjadi di Indonesia, jika kita lengah, prokes kendor, kebijakan longgar sekali, tentu risikonya tinggi,” ujar Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga Dr Laura Navika Yamani kepada detikcom, Minggu (19/9/2021).Laura mencontohkan kasus Corona yang kembali meningkat di Amerika Serikat. Terbaru, peningkatan kasus juga terjadi di China. Padahal, di negara tersebut capaian vaksinasi sudah tinggi.Sementara capaian vaksinasi di Indonesia masih jauh dari target.
Laura menyebut, gelombang ketiga sangat mungkin terjadi jika pemerintah lengah. Bahkan, vaksinasi tinggi pun tidak menjamin sebuah negara aman dari lonjakan kasus.“Amerika saja, dosis pertama hampir 100 persen. Sedangkan kita setengah dari target herd immunity saja masih belum tercapai untuk dosis kedua. Lawan utama vaksinasi itu adalah varian baru, kalau pemerintah tidak mengantisipasi masuknya varian baru, ya risiko kenaikan kasus, gelombang ketiga sangat mungkin terjadi,” terangnya.“Walaupun vaksinasi di Indonesia merata, dan tentunya sudah mencapai herd immunity, kita harus lihat negara lain yang hari ini capaian vaksinasi sudah tinggi, tapi masih mengalami peningkatan kasus. Selama WHO masih memberi status pandemi, kita jangan kendor,” lanjutnya.Laura mengakui, saat ini pengendalian Corona Indonesia sudah sangat baik, bahkan angka positivity rate sudah di bawah standar WHO. Ia meminta pemerintah harus konsisten dalam melakukan pengetatan, khususnya penegakan protokol kesehatan.“Memang Indonesia diapresiasi ya dalam penanganan Corona saat ini. Akan tetapi, jangan sampai lengah, vaksin terus digencarkan, strategi penanganan COVID-19 harus tetap tegas dan pendisiplinan prokes ini penting. Kalau vaksin bisa kalah dengan varian baru, satu-satunya antisipasi adalah prokes, mau varian lama atau baru, asal prokes disiplin, risiko penularan minim,” ungkapnya.Laura menyarankan sejumlah hal kepada pemerintah. Di antaranya mempercepat proses vaksinasi, kemudian menyiapkan segala hal akan potensi terburuk di masa depan. Seperti menyiapkan layanan kesehatan sebaik mungkin, agar tidak panik saat menghadapi kenaikan kasus.“Saran untuk pemerintah tetap on the track ya dalam penanganan kasus COVID-19 terutama program vaksinasi harus sesuai cakupan target. Ini jadi PR, kemudian bagaimana menuntaskan vaksin, masyarakat bisa mendapat vaksin,” katanya.“Kedua surveilans kesehatan ini mumpung stabil kondisinya, pemerintah harus memperbaiki, dan memprediksi ke depan bagaimana. Jangan dianggap sudah selesai, apalagi ada risiko kemunculan varian baru. Bagaimana metode untuk men-screening varian baru lebih dini, agar tidak menyebar, bandara diperketat proses screening-nya. Khawatirnya nanti malah makin masif penyebarannya, bisa-bisa lebih tinggi dari gelombang dua di Bulan Juli kemarin,” pungkasnya. (Detik) -

Diapresiasi Dunia, RI Disebut Jadi Salah Satu Negara Terbaik Tangani COVID-19

Foto ilustrasi JAKARTA (Kliik.id) – Penanganan COVID-19 di Indonesia disebut jadi salah satu yang terbaik di dunia karena berhasil menurunkan rasio positif lebih dari 50 persen dalam dua pekan.
Penilaian John Hopkins University menyebut RI sebagai one of the best in the world dalam penanganan COVID-19.
“Sebagai salah satu yang terbaik di dunia, karena mampu menurunkan kasus hingga di bawah 58 persen dalam kurun waktu 2 minggu,” kata juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi dalam pemaparannya, ditulis detikcom Minggu (19/9/2021).
Kendati demikian, masyarakat diminta terus mewaspadai ancaman lonjakan kasus dan risiko masuknya varian virus baru. Di antaranya dengan mengikuti dan menyukseskan program vaksinasi, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama memakai masker.
Terlebih ada ancaman gelombang ketiga COVID-19 yang diprediksi akan datang di akhir Desember 2021. Meski tren kasus sudah menurun, ahli menilai risiko gelombang ketiga tetap perlu diwaspadai.
“Karena sebelumnya saya selalu sampaikan potensi gelombang ketiga ada September, ini potensi gelombang ketiga mundur, tadinya Oktober, mundur lagi Desember,” sebut pakar epidemiologi Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman dalam diskusi daring, Jumat (17/9/2021).
Diharapkan tren perbaikan kasus tidak dimaknai dengan sikap abai protokol kesehatan. Pemerintah juga diminta menggencarkan testing dan tracing sebagai kunci penting pengendalian wabah. (Detik)
-

RI Diprediksi Akan Alami Gelombang ke-3 Corona, Komisi IX: Genjot Vaksinasi!

Charles Honoris (detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Tren kasus Corona harian di Indonesia menurun, namun diprediksi gelombang ketiga Corona akan terjadi di Indonesia pada akhir Desember nanti. Komisi IX DPR RI mengingatkan pemerintah agar mempersiapkan diri menghadapi gelombang ketiga Corona di Indonesia.“Kalau kita melihat trend yang terjadi di beberapa negara di dunia dan prediksi dari epidimiolog maka gelombang ke tiga penularan COVID-19 juga berpotensi terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur pelayanan kesehatan yang memadai termasuk memastikan ketersediaan oksigen dan obat-obatan yang cukup apabila ancaman tersebut menjadi kenyataan,” kata Wakil Ketua Komisi IX, Charles Honoris kepada wartawan, Sabtu (18/9/2021).Selain itu, Charles juga mendorong agar vaksinasi Corona kepada warga terus dilakukan. Sebab, berdasarkan data dimiliki Komisi IX menunjukkan bahwa vaksinasi memberikan perlindungan dari sakit parah dan kematian akibat Corona.“Selain itu, upaya percepatan vaksinasi harus terus digenjot. Vaksin COVID-19 memang tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan. Sampai saat ini tidak ada vaksin yang 100% efektif menghentikan penularan,” ujarnya.Sehingga, apabila capaian vaksinasi Corona tinggi dan kasus penularan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia tidak menjadi penuh dan kewalahan.“Masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi secara lengkap akan mendapatkan perlindungan dari gejala berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit,” imbuhnya.Angka Corona di Indonesia sebelumnya terus menurun. Di tengah perbaikan laju penularan Corona yang angka positivity rate-nya sudah di 1,31 persen, ahli menilai risiko gelombang ketiga Corona tetap perlu diwaspadai.Pakar epidemiologi Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman sebelumnya sempat mengestimasi gelombang ketiga COVID-19 Indonesia bisa terjadi di bulan Oktober.Namun, karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dinilai efektif dan terus dilanjutkan, potensi gelombang ketiga disebutnya semakin bisa ditekan.“Karena sebelumnya saya selalu sampaikan potensi gelombang ketiga ada September, ini potensi gelombang ketiga mundur, tadinya Oktober, mundur lagi Desember,” sebut Dicky dalam diskusi daring, Jumat (17/9/2021). (Detik) -

PPKM Diperpanjang, Masuk RI Wajib Vaksin Lengkap-Tiga Kali PCR

Foto ilustrasi (detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan pengetatan persyaratan untuk perjalanan internasional. Disebutkan, pelaku perjalanan wajib karantina selama delapan hari.“Pengetatan persyaratan perjalanan Internasional dari luar negeri wajib full vaksinasi, dan melakukan RT PCR (real time polymerase chain reaction) 3 kali, dan melakukan karantina selama delapan hari,” kata Luhut, dalam Konferensi Pers PPKM, Senin (13/9/2021).Selain itu, untuk pembatasan pintu masuk bagi kemudahan pengawasan dari udara untuk pelaku perjalanan, penerbangan luar negeri hanya bisa lewat Cengkareng dan Manado.“Sedangkan untuk Bali, sedang dipertimbangkan untuk bisa jalan, kita akan lihat 1 sampai 2 minggu ke depan,” lanjut Luhut.Sebagai informasi tambahan, PPKM di Jawa-Bali kembali diperpanjang hingga 20 September 2021. Bali kini turun ke level 3.“Pemerintah akhirnya berhasil menurunkan Provinsi Bali menjadi level 3. Sehingga dari 11 kota/kabupaten pada Minggu lalu, pada hari ini jumlahnya berkurang menjadi hanya 3 kabupaten/kota saja,” kata Luhut. (Detik) -

Luhut: Bioskop Diperbolehkan Buka di Daerah Kategori Hijau

Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pemerintah akan melakukan penyesuaian aktivitas masyarakat pada perpanjangan PPKM level 1-4. Luhut menyebut salah satunya ialah pembukaan bioskop di kota dengan PPKM level 2-3.“Ada beberapa penyesuaian dan pengetatan aktivitas masyarakat yang bisa dilakukan dalam periode minggu ini antara lain. Pertama pembukaan bioskop,” kata Luhut saat alam konferensi pers, Senin (13/9/2021).Luhut mengatakan pembukaan bioskop hanya berlaku pada kabupaten kota dengan PPKM level 2 hingga 3. Dia menyebut maksimal pengunjung hanya 50 persen.“Pembukaan bioskop dengan kapasitas maksimal 50 persen pada kota level 3 dan level 2,” ucapnya.Selain itu, Luhut menyebut pengelola bioskop harus menyediakan PeduliLindungi di lokasi bioskop. Kemudian hanya wilayah yang masuk kategori hijau yang diperbolehkan membuka bioskop.“Namun dengan kewajiban menggunakan aplikasi PeduliLindungi serta prokes yang ketat, hanya kategori hijau yang dapat masuk area bioskop,” ujarnya. (Detik)