![]() |
| Foto ilustrasi (detikcom) |
Category: Covid-19
-

Kasus Corona RI Tambah 1 Juta Cuma dalam 31 Hari, Efek Varian Delta?
JAKARTA (Kliik.id) – Hanya dalam waktu 31 hari kasus Corona di Indonesia telah menembus satu juta kasus. Apakah kecepatan penambahan kasus ini efek dari Corona varian Delta?Dirangkum detikcom, Jumat (23/7/2021) kasus Corona di Indonesia menembus angka satu juta kasus pertama kali pada bulan Januari 2021.Tercatat pada 26 Januari 2021, total kasus mencapai 1.012.350 kasus. Jika dihitung dari kasus pertama di bulan Maret 2020, artinya ada jarak 11 bulan.Memasuki tahun 2021, penularan Corona semakin cepat, apalagi saat virus Corona varian Delta ditemukan di Indonesia. Angka kasus Corona menembus dua juta kasus 5 bulan kemudian. Yakni per 21 Juni, total kasus Corona 2.004.445 kasus.Selanjutnya, pada 22 Juli 2021 dilaporkan ada penambahan 49.509 kasus baru COVID-19 di Indonesia. Dengan penambahan ini, total kumulatif kasus berjumlah 3.033.339 kasus. Hanya butuh waktu 31 hari untuk menambah satu juta kasus Corona.Efek Utama Varian DeltaEpidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa kecepatan penambahan kasus ini jelas merupakan dampak utama varian Delta.“Ya ini jelas utama dampak varian Delta,” kata Dicky kepada wartawan, Jumat (23/7/2021).Kendati demikian, dia juga melihat kecepatan penambahan kasus ini juga disebabkan oleh tes Corona yang awalnya memang rendah. Menurutnya, inilah yang memperburuk situasi penularan Corona di daerah dan nasional.“Tetapi yang juga terjadi bahwa memang secara kondisi awal testing kita yang awalnya rendah ini membuat kondisi daerah dan nasional sangat rawan. Kita belum menemukan kasus-kasusnya dengan efektif. Sehingga mereka membawa perburukan dalam akumulasi kasus ini,” tuturnya. (Detik) -

Varian Delta Meluas, Kasus Kematian di Asia Tenggara Melonjak

Foto ilustrasi JAKARTA (Kliik.id) – Pemberitaan mengenai krisis kesehatan akibat pandemi di India pada Mei lalu menjadi sorotan masyarakat dunia, tetapi dalam dua pekan terakhir tiga negara di kawasan Asia Tenggara telah melampaui angka kasus kematian India, yaitu Malaysia, Indonesia dan Myanmar.Eric Lam, warga negara Malaysia yang terinfeksi COVID-19 dan dirawat di rumah sakit di negara bagian Selangor pada 17 Juni, mengatakan fasilitas perawatan sudah penuh sesak, tidak ada lagi ruang tersisa untuk pasien baru.Kondisi Lam sempat memburuk, sehingga dia dipasangi ventilator di unit ICU. Namun, nahas Lam kehilangan ayah dan iparnya akibat virus corona. Meskipun demikian, dia optimis melanjutkan hidup.“Saya merasa telah dilahirkan kembali dan diberi kesempatan kedua untuk hidup,” katanya.Krisis kesehatan di MalaysiaSejumlah faktor menjadi penyebab lonjakan kasus virus corona di negara-negara ASEAN.“Jika orang mengikuti dasar-dasar (protokol kesehatan) mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan vaksinasi, kita akan melihat penurunan kasus dalam beberapa minggu ke depan dari sekarang,” kata Abhishek Rimal, Koordinator Kesehatan Darurat Asia-Pasifik untuk Palang Merah yang berbasis di Malaysia.Sejauh ini tindakan penguncian nasional Malaysia belum berhasil menurunkan tingkat infeksi harian. Negara berpenduduk sekitar 32 juta itu mengalami peningkatan kasus harian di atas 10.000 pada 13 Juli untuk pertama kalinya.Tingkat vaksinasi tetap rendah, baru 15% dari populasi yang sepenuhnya diinokulasi dan pemerintah berharap mayoritas penduduk bisa mendapatkan vaksin pada akhir tahun.Lonjakan kasus dan kurangnya pasokan oksigen di IndonesiaDengan populasi hampir 1,4 miliar orang, total kematian COVID-19 di India tetap lebih tinggi dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Namun, negara-negara seperti Indonesia, Myanmar, Malaysia, Kamboja, dan Thailand menunjukkan peningkatan tajam kasus terkonfirmasi sejak akhir Juni.“Orang-orang di wilayah ini berhati-hati, karena mereka telah melihatnya tepat di depan mereka – 400.000 kasus sehari di India – dan mereka benar-benar tidak ingin terulang di sini,” ujar Rimal.Indonesia, negara terpadat keempat di dunia dengan sekitar 270 juta penduduk, melaporkan 1.383 kematian pada Rabu (21/7/2021), hari paling kelam sejak pandemi meluas.Kasus harian hingga pertengahan Juni sekitar 8.000, tetapi berangsur melonjak dan mencapai puncaknya pada pekan lalu dengan lebih dari 50.000 infeksi baru setiap hari.Lantaran tingkat pengujian di Indonesia rendah, jumlah kasus baru diyakini jauh lebih tinggi.Banyak rumah sakit mulai kehabisan oksigen, sehingga pemerintah mendesak produsen untuk mengalihkan sebagian besar produksi dari keperluan industri ke pemenuhan kebutuhan medis.
Indonesia membutuhkan 400 ton oksigen untuk keperluan medis per hari. Namun, kini penggunaan oksigen meningkat lima kali lipat menjadi lebih dari 2.000 ton, menurut Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono.Meski produksi oksigen saat ini sudah mencukupi, Lia Partakusuma, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia, mengatakan ada masalah distribusi sehingga beberapa rumah sakit masih mengalami kekurangan.Ketika krisis berubah menjadi bencanaKetika pengujian dan pelaporan kasus COVID-19 berangsur pulih, gelombang baru virus corona melanda Myanmar pada pertengahan Mei lalu.“Dengan kapasitas pengujian yang kecil, kekurangan oksigen dan pasokan medis lainnya yang meluas, dan sistem perawatan kesehatan yang sudah terkepung di bawah tekanan yang meningkat, situasinya diperkirakan akan semakin memburuk dalam beberapa minggu dan bulan mendatang,” kata kelompok advokasi Anggota Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia.“Sementara itu, penyitaan oksigen oleh junta, serangan terhadap petugas dan fasilitas kesehatan sejak kudeta, dan kurangnya kepercayaan pada layanan apa pun yang mereka berikan oleh mayoritas penduduk, berisiko mengubah krisis menjadi bencana,” tambahnya.Cho Tun Aung, Kepala Departemen yang mengawasi pemakaman mengatakan kepada TV Myawaddy yang dikelola militer pada Senin (19/7/2021) bahwa 350 staf telah bekerja tiga shift sejak 8 Juli, untuk melakukan kremasi dan pemakaman di tujuh lokasi di Yangon.“Kami bekerja dalam tiga shift siang dan malam untuk menjembatani orang mati,” katanya.Dia mengatakan para pekerja telah mengkremasi dan menguburkan lebih dari 1.200 orang pada hari Minggu (18/7/2021) saja, termasuk 1.065 yang meninggal di rumah karena COVID-19 dan 169 orang yang meninggal di rumah sakit. (Detik) -

Kabareskrim: Tindak Tegas yang Mengganggu Upaya Pemerintah Tangani COVID!

Kabareskrim Komjen Agus Andrianto (Foto: detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menginstruksikan seluruh jajarannya menindak tegas setiap informasi palsu atau hoax yang mengganggu upaya pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19.Pernyataan tersebut disampaikan Komjen Agus kepada jajarannya dalam rapat virtual di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (20/7/2021).“Jika pelanggaran person to person terapkan RJ (Restorative Justice) dan SE Kapolri, tetapi jika yang berkaitan mengganggu upaya pemerintah dalam penanganan Covid, ini tindak tegas,” katanya.“Jangan sampai masyarakat ini bingung dengan banyaknya berita bohong yang berkembang di masyarakat,” sambung Agus.Agus juga menginstruksikan seluruh jajarannya melakukan pengawalan dan pengamanan penyerapan belanja modal di provinsi, kabupaten, dan kota.Menurut Agus, dalam penanganan Pandemi COVID-19 ini, masih banyak provinsi yang ragu untuk menyerap anggaran dan belanja modal. Sebab itu, ia meminta jajaran Reskrim betul-betul bijaksana dalam menangani perkara terkait dengan hal tersebut.“Apabila ada kesalahan sedikit agar disikapi dengan bijaksana, yang terpenting ekonomi negara berputar anggaran dapat diserap seluruhnya dengan baik. Pengawasan dan pengamanan penyerapan anggaran ini bisa bekerja sama dengan Forkopimda dan Kementerian/Lembaga,” ujar Agus.Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, kata Agus telah menginstruksikan untuk melakukan pendampingan kepada kepala daerah untuk tidak ragu menyerap anggaran.“Bapak Kapolri membuka ruang selebar-lebarnya kepada pejabat daerah di wilayah mengajukan komplain. Apabila ada rekan-rekan yang melakukan kriminalisasi akan dilakukan pemeriksaan oleh Propam,” ucap Agus.Aparat Diminta Tak Arogan di Masa PPKM DaruratDi sisi lain, Kapolri, menurut Agus, telah menekankan kepada seluruh anggota kepolisian untuk tidak bersifat arogan kepada masyarakat. Terlebih selama masa pelaksanaan PPKM Darurat.“Jangan sampai tindakan yang kami lakukan ini sifatnya kontra produktif dengan kebijakan Pemerintah. Mohon jajaran mengingatkan agar semua lini tidak bersifat arogan kepada masyarakat. Seperi contoh di Solo yang menggunakan bahasa daerah dan lebih persuasif,” tutur Agus.Agus mengingatkan, terkait dengan protokol kesehatan, kepada pedagang selagi menerapkan sosial distancing maka hal tersebut masih diperbolehkan. Kecuali sudah melanggar jam operasional yang ditentukan.Kemudian, Agus meminta agar jajarannya telah melakukan pengecekan setiap harinya terkait dengan distribusi dan ketersediaan obat-obatan maupun oksigen.“Kapolri mengingatkan bahwa Polri siap membantu pelaksanaan distribusi bantuan sosial kepada setiap daerah yang paling terdampak,” kata Agus. (Detik) -

Cegah COVID-19, Atlet Olimpiade 2020 Tidur di Ranjang Kardus ‘Antiseks’

Penyelenggaraan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang, akan berbeda dari biasanya karena berlangsung di tengah pandemi. (Foto: detikcom) TOKYO (Kliik.id) – Penyelenggaraan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang, akan berbeda dari biasanya karena berlangsung di tengah pandemi. Fasilitas bagi para atlet pun mengalami penyesuaian, termasuk tempat tidur.Lupakan ranjang dengan kasur nyaman bak hotel berbintang. Para atlet Olimpiade 2020 akan tidur di atas ranjang yang terbuat dari kardus daur ulang. New York Post mengabarkan, Minggu (18/7/2021), ranjang tersebut dipilih agar para atlet tak berhubungan seksual selama berada di Olimpiade 2020 agar terhindar dari penularan COVID-19.Atlet lari AS, Paul Chelimo, sempat berkomentar di Twitter soal ranjang ‘antiseks’ di asrama atlet Olimpiade 2020.“Tempat tidur di Tokyo Olympic Village terbuat dari kardus, tujuannya untuk mengurangi intimasi antar para atlet. Ranjang ini hanya bisa menahan beban satu orang. Tidak masalah bagi kami para pelari jarak jauh, meski kami berempat bisa tidur di atasnya,” kicau Paul.Menurut situs dezeen, sebanyak 18 ribu kasur produksi perusahaan Jepang bernama Airweave itu telah disiapkan untuk Olimpiade 2020.Sejalan dengan prinsip gaya hidup ramah lingkungan yang diterapkan Olimpiade tahun ini, panitia akan menggunakan kembali sekitar 8.000 di antaranya untuk atlet Paralympic. Selain ranjang, kasurnya juga terbuat dari bahan daur ulang.Airweave mengatakan, material utama dari kasur tersebut adalah serat polyethylen sehingga bisa didaur-ulang berulang kali.Berhubungan intim antar sesama atlet selama Olimpiade berlangsung sudah bukan rahasia lagi. Tak heran bila sejak Olimpiade 1988, panitia mendistribusikan kondom bagi para atlet.Tahun ini, sekitar 160 ribu kondom akan dibagikan tapi jumlahnya menurun drastis dari 450 ribu kondom di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.Namun, panitia Olimpiade 2020 menegaskan, kondom tersebut hanya boleh untuk dibawa pulang atlet ke negara masing-masing demi meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya berhubungan seksual secara aman.“Tujuan kami, bukan agar para atlet memakainya di Olympic Village, tapi untuk meningkatkan kesadaran dengan membawanya pulang,” kata Panitia Penyelenggara Organisasi Olimpiade kepada Japan Today. (Detik) -

Kapan Pasien Corona Isoman Harus Cek Saturasi Oksigen?

Foto ilustrasi JAKARTA (Kliik.id) – Pasien Corona yang menjalani isolasi mandiri disarankan untuk selalu cek saturasi oksigen secara berkala dengan menggunakan alat oksimeter. Pasien COVID-19 disarankan mengukur saturasi oksigen tiap enam jam sekali.“Pantau saturasi oksigen Anda tiap enam jam, tapi upayakan tetap tenang. Karena kecemasan justru akan meningkatkan denyut nadi Anda,” tulis Ketua Satgas IDI, Prof Zubairi Djoerban di akun Twitter pribadinya, dikutip Jumat (16/7/2021).Pengukuran saturasi oksigen menjadi penting karena salah satu kondisi membahayakan yang bisa dialami oleh pasien COVID-19 adalah happy hypoxia, penurunan kadar oksigen tanpa adanya keluhan apapun namun membahayakan jiwa.Prof Zubairi mengatakan oksimeter amat krusial bagi pasien COVID-19 yag sedang isolasi mandiri. Setelah memeriksa dengan oksimeter, catat saturasi itu, termasuk gejala yang dialami secara rutin.Hal ini penting, karena setiap penurunan saturasi yang konsisten akan mengharuskan pasien mendapat perawatan medis darurat.Acuan tingkat saturasi oksigen:Ideal: 100 persen.Cukup meyakinkan: > 98 persen.Tidak mengkhawatirkan: 95-97 persen.Segera hubungi dokter atau petugas medis: < 94 persen.Adapun cara cek saturasi oksigen tanpa alat oksimeter yang bisa dilakukan di rumah yakni dengan menghitung jumlah napas dalam satu menit.“Sesak itu bisa kita hitung, kalau kita nggak punya oximetry, kita bisa hitung. Dalam satu menit berapa kali napas kita, kita lakukan. Kalau lebih dari 24 kali dalam satu menit kita menarik napas, itu artinya kita dalam keadaan sesak,” ujar juru bicara vaksinasi COVID-19, dr Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari e-Flash.Apabila pasien mengalami sesak napas akibat penurunan kadar oksigen namun tidak ada suplementasi oksigen, salah satu teknik yang bisa dilakukan sebagai pertolongan darurat adalah proning position.Proning position cukup efektif jika saturasi oksigen masih berada di atas 94 persen. Hanya saja, jika sudah di bawah 94 persen, bantuan oksigen tambahan tetap dibutuhkan.Proning position bisa dilakukan dengan cara:Posisi 1: tidur tengkurap dengan tiga bantal diletakkan di leher, panggul, dan kaki.Posisi 2: berbaring menyamping ke kanan dengan tiga bantal di kepala, pinggang, dan di antara kedua kaki.Posisi 3: rebah dalam posisi setengah duduk, dengan tiga bantal ditumpuk untuk bersandar.(Detik) -

Media Asing Sorot Kasus Corona Indonesia yang Lampaui India

Foto pemakaman korban Covid JAKARTA (Kliik.id) – Media asing menyoroti Indonesia yang mencatat jumlah kasus harian infeksi virus Corona melebihi angka 40 ribu selama dua hari berturut-turut.Media Jepang, Nikkei Asia, salah satunya, menyebut Indonesia telah melampaui India sebagai episentrum baru di Asia untuk pandemi virus Corona.Dalam artikel berjudul “Indonesia overtakes India to become Asia’s COVID epicenter”, Nikkei Asia menulis bahwa Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara pada hari Selasa (13/7/2021) melaporkan 47.899 infeksi baru, rekor tertinggi, naik dari 40.427 hari sebelumnya. Sementara itu jumlah kasus harian di India, turun menjadi 32.906 dari 37.154.“Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa meskipun memiliki lebih banyak infeksi setiap hari, populasi 270 juta penduduk Indonesia hanya seperlima dari India. Indonesia sekarang memiliki sekitar 132 kasus per juta orang, dibandingkan dengan India 26 kasus per juta orang pada hari Minggu (11/7), menurut ourworldindata.org,” tulis Nikkei dalam artikelnya pada Selasa (13/7/2021).“Sementara jumlah kematian harian pada hari Selasa kurang dari setengah jumlah kematian India sebanyak 2.020, hitungan per kapita Indonesia lebih tinggi – rata-rata 3 kematian per juta orang, dibandingkan dengan kurang dari satu kematian di negara Asia selatan itu,” tulis Nikkei.Lebih lanjut Nikkei menulis, angka-angka tersebut tidak memperhitungkan catatan testing dan penelusuran (tracing) yang buruk di Indonesia.Tingkat kasus positif (positivity rate) di Indonesia – persentase infeksi yang dikonfirmasi vs orang yang dites – telah berkisar sekitar 30% selama seminggu terakhir, sedangkan angka untuk India 2%.Secara kumulatif, penghitungan jumlah kasus COVID-19 terkonfirmasi di India masih yang tertinggi di Asia dengan 30,9 juta kasus dan 410.784 kematian pada Selasa (13/7), diikuti oleh Indonesia dengan 2.615.529 kasus dan 68.219 kematian.“Tetapi sementara angka India terus turun sejak mencapai puncaknya pada Mei, wabah terburuk di Indonesia sejak awal pandemi belum menunjukkan tanda-tanda melambat,” tulis media Jepang tersebut.Sebelumnya, krisis tabung oksigen untuk kebutuhan medis di Indonesia saat pandemi virus Corona (COVID-19) semakin mengganas, juga menjadi sorotan berbagai media internasional.Salah satunya media terkemuka Associated Press yang mengulasnya dalam artikel berjudul ‘Indonesia seeks more oxygen for COVID-19 sick amid shortage’ seperti dilansir pada Senin (5/7/2021).Media terkemuka lainnya, Reuters membahas situasi kekurangan pasokan oksigen di Indonesia dalam artikelnya yang berjudul ‘Indonesia ramps up oxygen output after dozens die amid scarcity’.“Indonesia telah memerintahkan produsen oksigen untuk memprioritaskan kebutuhan medis di tengah meningkatnya permintaan dari pasien-pasien COVID-19, kata pemerintah pada Minggu (4/7), menyusul lebih dari 60 kematian di sebuah rumah sakit di mana pasokan gas penyelamat hampir habis,” demikian ulasan Reuters dalam artikelnya. (Detik) -

Rekor 40 Ribu Kasus Harian Corona, RI Tempati Peringkat Pertama di Dunia

Kasus harian Corona di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi selama pandemi. Per Senin (12/7/2021) ada 40.427 warga yang terinfeksi COVID-19, sehingga total akumulatif mencapai 2.567.630 kasus JAKARTA (Kliik.id) – Kasus harian Corona di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi selama pandemi. Per Senin (12/7/2021) ada 40.427 warga yang terinfeksi COVID-19, sehingga total akumulatif mencapai 2.567.630 kasus.Tembus rekor baru, Indonesia kini menempati peringkat pertama penyumbang kasus harian COVID-19 terbanyak di dunia. Penambahan kasus COVID-19 di Indonesia melampaui catatan harian Corona Inggris dan India dengan laporan 34.471 kasus dan 27.404 kasus.Brazil yang biasanya menempati peringkat pertama, kini ‘hanya’ melaporkan 17.031 kasus COVID-19.Dikutip dari Worldometers Selasa (13/7/2021), Brazil kini berada di peringkat ketujuh tertinggi kasus harian COVID-19 dunia.Sebelumnya, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator PPKM Darurat Luhut Binsar Pandjaitan pernah menyebut skenario terburuk disiapkan jika Corona di Indonesia menembus 40 ribu kasus.“Sekarang kami sudah buat skenario gimana kalau kasus ini 40 ribu. Jadi kita sudah hitung worst-case scenario, lebih dari 40 ribu. Bagaimana tadi suplai oksigen, bagaimana suplai obat, bagaimana suplai rumah sakit, semua sudah kami hitung,” kata Koordinator PPKM Darurat dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam jumpa pers virtual, 6 Juli pekan lalu.Berikut penambahan kasus COVID-19 tertinggi dunia, dikutip dari Worldometers Selasa (13/7/2021).IndonesiaKasus baru: 40.427 kasusTotal kasus: 2.567.630 kasusInggrisKasus baru: 34.471 kasusTotal kasus: 5.155.243 kasusIndiaKasus baru:27.404 kasusTotal kasus: 30.901.311 kasusRusiaKasus baru: 25.140 kasusTotal kasus: 5.808.473 kasusColombiaKasus baru: 18.160 kasusTotal kasus: 4.530.610 kasusBrazilKasus baru: 17.301 kasusTotal kasus: 19.106.971 kasusArgentinaKasus baru: 14.989 kasusTotal kasus: 4.662.937 kasusBangladeshKasus baru: 14.989 kasusTotal kasus: 1.034.957 kasusSpanyolKasus baru: 11.310 kasusTotal kasus: 3.971.124 kasus.(Detik) -

Jokowi: Pandemi Belum Berakhir, COVID-19 Masih Ada dan Tak Kasatmata

Presiden Joko Widodo (Foto: detikcom) JAKARTA (Kliik.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pandemi COVID-19 belum berakhir. Jokowi mengatakan, virus Corona masih ada di sekitar kita.Hal itu disampaikan Jokowi melalui Instagramnya, Senin (12/7/2021).
Jokowi turut mengunggah gambar seorang pria bermasker dobel membawa lampu petromaks dengan tulisan ‘waspada selalu’.“Pandemi ini belum berakhir. Virus Covid-19 masih ada di sekitar kita dan tak kasatmata,” tulis Jokowi.Jokowi pun mengingatkan warga untuk tidak pernah lengah. Dia meminta warga selalu mematuhi protokol kesehatan.“Jangan pernah lengah. Selalu kenakan masker, jaga jarak, hindari kerumunan,” lanjutnya.Jokowi juga sekali lagi mewanti-wanti warga untuk tidak keluar rumah. Apalagi, jika tidak ada keperluan yang mendesak.“Dan tidak keluar rumah bila tak ada keperluan mendesak,” tulis Jokowi. (Detik) -

Hadapi Lonjakan COVID-19, Produksi Oksigen Medis Digenjot dan Ketersediaan Obat Dijamin Aman

Foto ilustrasi tabung oksigen JAKARTA (Kliik.id) – Pemerintah terus menggenjot produksi oksigen medis dalam menghadapi lonjakan kasus COVID-19 dimasa PPKM darurat ini. Disamping itu, pemerintah menjamin ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan.Dalam keterangannya terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Jumat (9/7/2021), Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan lonjakan kasus COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir ini juga telah membuat kebutuhan oksigen medis meningkat tajam.Siti mengatakan, kapasitas produksi oksigen di Indonesia mencapai 866.000 ton/tahun, sedangkan utilisasi produksi pertahunnya 638.900 ton, dimana 75% digunakan untuk industri dan hanya 25% yang dipakai medis.Kementerian Kesehatan, jelasnya, telah mendapatkan komitmen dari Kementerian Perindustrian agar konversi gas industri ke oksigen medis diberikan sampai dengan 90%.Siti mengatakan, adanya kelangkaan oksigen medis di sejumlah daerah lebih disebabkan karena rantai distribusi yang belum optimal.Untuk itu, pemerintah akan menambah pasokan oksigen dan mempercepat penyaluran oksigen medis tersebut ke daerah-daerah yang kasus COVID-19 nya tinggi.Untuk saat ini, kapasitas oksigen yang ada, akan dimaksimalkan di 7 Provinsi di Jawa-Bali karena meningkatnya kasus COVID-19 sebanyak 6-8 kali lipat.Berdasarkan data Kemenkes, saat ini total kebutuhan oksigen untuk perawatan intensif dan isolasi pasien COVID-19 mencapai 1.928 ton/hari, sementara kapasitas yang tersedia ada 2.262 ton/hari. Sehingga, ditargetkan untuk wilayah Jawa-Bali bisa mensuplai oksigen sebanyak 2.262 ton/hari.Siti mengatakan, Indonesia juga telah menerima bantuan dari pemerintah Singapura, Australia, dan Cina, berupa sarana dan prasarana kesehatan. Di antaranya ventilator, tabung oksigen kosong, oksigen konsentrator, dan lainnya.Sementara menyangkut obat-obatan yang dibutuhkan, Siti mengatakan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan obat terapi COVID-19. Pemerintah terus berkoordinasi dengan industri farmasi untuk meningkatkan kapasitas produksinya.Pihaknya juga berkoordinasi rutin dengan industri farmasi dan jejaring distribusinya untuk memonitor ketersediaan obat yang diperlukan untuk penanganan COVID-19 sesuai dengan pedoman tatalaksana COVID-19 yang saat ini menggunakan edisi ke-3 yang diterbitkan pada Desember 2020.“Dalam hal terjadi hambatan suplai impor dari luar negeri, Kementerian Kesehatan
berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait untuk membantu penyelesaian hambatan suplai tersebut,” ujarnya.Siti juga mengungkapkan ketersediaan obat terkait COVID-19 di industri farmasi dan pedagang besar per 9 Juli 2021, yakni Favipiravir: 3,2 juta, Remdesivir injeksi: 11 ribu, Oseltamivir: 157 ribu, Azitromisin oral: 2,4 juta, Azitromisin infus: 163 ribu, Tocilizumab infus: 543, Intravenous Immunoglobulin: 7.000, dan Ivermectin: 237 ribu.Pemerintah terus meningkatkan dan menambah produksi ketersediaan obat-obatan untuk terapi COVID-19 ini. Untuk mengantisipasi kenaikan harga obat, Kementerian Kesehatan sudah mengkaji kondisi di lapangan dan telah menerbitkan SK Menkes No. HK.07.07/Menkes/4826/2021 untuk mengatur Harga Eceran Tertinggi (HET) obat dalam masa pandemi COVID-19.“Marilah kita bersama saling berkolaborasi dan saling mendukung. Masyarakat juga jangan panik dengan melakukan pembelian secara berlebihan baik obat maupun sarana prasarana lainnya demi menjaga keseimbangan dan ketersediaan obat terutama bagi yang membutuhkan,” ujarnya. (Detik)
